Nama Terbaik Untuk Si Buah Hati

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Beberapa kesempatan yang lalu kami telah mengangkat pembahasan hadiah bagi si buah hati (serial pertama), yaitu mengenai tahnik (mengunyah makanan manis di saat bayi itu lahir). Sekarang kami akan mengutarakan pembahasan lainnya yaitu memberi nama terbaik bagi si buah hati. Pembahasan ini insya Allah masih berlanjut pada posting selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Urgensi Pemberian Nama Terbaik

Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim. Makna isim bisa jadi adalah ‘alamat (tanda). Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang.

Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma’) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan.[1] Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya.

Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut.

Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan adalah nama yang terbaik, maka atsarnya (pengaruhnya) pun baik. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa nama yang terbaik adalah ‘Abdullah karena nama tersebut menunjukkan penghambaan murni pada Allah. Begitu pula, dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberi nama dengan nama yang buruk seperti ‘Ashiyah (wanita yang bermaksiat, dengan huruf ‘ain dan shod), Hazn (sedih) dan Zahm (sempit).

Intinya, nama begitu pengaruh dalam diri orang yang diberi nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak diberi nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terus-terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. Itulah urgensi penting dalam pemberian nama bagi si buah hati.

Pengaruh lainnya lagi, dari nama terbaik, seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orang tuanya. Orang tuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah ortunya itu sholih atau tholih (lawan dari sholih). Sebagaimana orang arab pun mengatakan,

مِنْ اِسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ

“Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu.”

Dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan. Lihatlah bagaimana jika seseorang diberi nama “Musa”. Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa ‘alaihis salam. Oleh karena itu, pemberian nama yang baik di sini termasuk menyebar sunnah hasanah di tengah-tengah umat. Maksud kami ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

“Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu.” (HR. Muslim no. 1017)[2]

Inilah di antara urgensi memberi nama yang baik.

Waktu Terbaik dalam Pemberian Nama

Mengenai waktu terbaik dalam pemberian nama dapat kita lihat dalam hadits-hadits berikut.

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وُلِدَ لِىَ اللَّيْلَةَ غُلاَمٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِى إِبْرَاهِيمَ

“Semalam telah lahir anakku dan kuberi nama seperti ayahku yaitu Ibrahim.” (HR. Muslim no. 2315)

Dari Abu Musa, ia mengatakan,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ ، وَدَفَعَهُ إِلَىَّ ، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِى مُوسَى .

“Anak laki-lakiku lahir, kemudian aku membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu memberinya nama Ibrahim, beliau menyuapinya dengan kunyahan kurma dan mendoakannya dengan keberkahan, setelah itu menyerahkannya kepadaku.” Ibrahim adalah anak tertua Abu Musa.” (HR. Bukhari no. 5467, 6198 dan Muslim no. 2145)

Dari Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari hadits Abu Musa di atas, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa Abu Musa bersegera membawa bayinya yang baru lahir kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ditahnik setelah diberi nama sebelumnya. Dalil ini menunjukkan bahwa bersegera dalam pemberian nama pada si buah hati itu lebih baik, dan tidak mesti menunggu pemberian nama pada hari ketujuh.”[3]

Al Baihaqi mengatakan, “Hadits yang membicarakan pemberian nama pada si buah hati di hari kelahiran lebih shahih daripada hadits yang menunjukkan pemberian nama pada hari ketujuh.”[4]

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tasmiyatul Mawlud mengatakan, “Terdapat dalam sunnah Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam bahwa pemberian nama itu ada tiga waktu:

1. Di hari kelahiran,
2. Sampai hari ketiga dari hari kelahiran,
3. Di hari ketujuh dari kelahiran,

Perbedaan ini adalah perbedaan variatif dan dalam hal ini ada kelonggaran untuk memilih salah satunya.”[5]

Apa yang disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid sama halnya dengan yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Mawdud[6]. Namun sebagaimana kata Ibnu Hajar di atas, dalam pemberian nama lebih cepat itu lebih baik yaitu lebih bagus memberi nama pada hari pertama. Wallahu a’lam.

Pemberian Nama dan Nasab Menjadi Hak Ayah (Bukan Ibu)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,”Mengenai pemberian nama menjadi hak ayah itu tidak ada perselisihan di antara para ulama. Hadits-hadits sebelumnya (yang membicarakan tentang pemberian nama, pen) juga menunjukkan akan hal ini. ”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Sebagaimana tidak ada perselisihan bahwa ayah yang berhak memberi nama, maka tidak ada perselisihan pula mengenai masalah anak dipanggil dengan nama ayahnya bukan dengan nama ibunya. Sehingga anak tersebut dipanggil dengan fulan bin fulan (dan bukan fulan bin fulanah, pen). Di antara dalil yang menunjukkan hal ini, firman Allah Ta’ala,

ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

“Panggilah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka.” (QS. Al Ahzab: 5). Anak hanyalah mengikuti ibunya dalam masalah merdeka atau budak. Sedangkan ia tetap mengikuti ayahnya dalam nasab dan dalam pemberian nama.” [7]

Dalil lain yang dapat kita lihat adalah hadits dari Ibnu Umar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ فَقِيلَ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ

“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terakhir kelak di hari Kiamat, maka akan dikibarkan bendera bagi setiap pengkhianat, lalu dikatakan, ‘Ini adalah bendera si fulan bin fulan’.” (HR. Muslim no. 1735).

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama bapak mereka (fulan bin fulan), bukan nama ibu mereka (fulan bin fulanah).

Urutan Nama Terbaik Bagi Si Buah Hati[8]

Urutan pertama: Nama Abdullah dan Abdurrahman

Dalam ktab Al Adzkar, Imam An Nawawi Asy Syafi’i rahimahullah menyebutkan Bab “Penjelasan nama yang paling dicintai oleh Allah”. Lantas beliau bawakan dua hadits berikut ini.

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

“Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.”(HR. Muslim no. 2132)

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,

وُلِدَ لِرَجُلٍ مِنَّا غُلاَمٌ فَسَمَّاهُ الْقَاسِمَ فَقُلْنَا لاَ نَكْنِيكَ أَبَا الْقَاسِمِ وَلاَ كَرَامَةَ . فَأَخْبَرَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « سَمِّ ابْنَكَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ »

“Seorang laki-laki di antara kami ada yang memiliki anak, kemudian dia memberi nama “Al Qasim”. Maka kami berkata, “Kami tidak akan menjuluki kamu dengan Abu Al Qasim dan kami tidak akan memuliakannya. Lalu orang tersebut memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau bersabda, “Berilah anakmu nama Abdurrahman.” (HR. Bukhari no. 6186)

Kedua nama ini memiliki keunggulan dari segi:

Pertama: Nama ini mengandung sifat penghambaan yang khusus antara hamba dan Allah dibanding dengan nama-nama (yang bersandar pada asmaul husna) lainnya. Karena nama ‘Abdullah mengandung sifat ubudiyah (penghambaan dalam ibadah) dan ini hanya ada kaitannya antara Allah dan hamba. Begitu pula nama ‘Abdurrahman mengandung sifat ubudiyah (penghambaan) karena sifat Ar Rahman adalah sifat rahmat yang khusus antara hamba dan Allah.[9]

Kedua: Nama berupa penghambaan yang terdapat dalam kedua nama tersebut dikhususkan dalam Al Qur’an dari nama-nama terbaik lainnya. Semisal dapat ayat-ayat berikut,

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan bahwasanya tatkala Abdullah (yaitu hamba Allah, Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.” (QS. Al Jin: 19)

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon: 63)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)” (QS. Al Isro’: 110)

Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama pada anak pamannya (Al ‘Abbas) dengan nama Abdullah.

Keempat: Sekitar 300 sahabat Nabi memiliki nama Abdullah.[10]

Urutan kedua: Nama bentuk penghambaan pada asmaul husna lainnya.

Seperti Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Malik, Abdur Rozaq, Abdul Halim, dan Abdul Muhsin.[11]

Urutan ketiga: Nama para Nabi dan Rasul Allah

Seperti Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Isa dan Muhammad, yang intinya ada 25 nama Nabi yang disebutkan dalam Al Qur’an.

Dari Al Mughirah bin Syu’bah ia berkata, “Ketika aku mendatangi kota Najran, para penduduknya bertanya kepadaku: Sesungguhnya kalian membaca “Wahai saudara Harun”. Padahal Musa hidup sebelum Isa berjarak beberapa tahun. Maka ketika aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau pun menjawab,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

“Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang shaleh dari kaum sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)

Dalil lainnya adalah bolehnya memiliki nama seperti nama “Muhammad”, nama Nabi kita. Bahkan nama inilah yang terbaik dari nama para Nabi ‘alaihimus salam lainnya[12]. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَمَّوْا بِاسْمِى وَلاَ تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِى

“Berilah nama dengan namaku (Muhammad) dan janganlah kalian berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim)”. (HR. Bukhari no. 6187 dan Muslim no. 2134)

An Nawawi membawakan hadits-hadits di atas dalam Bab “Larangan berkunyah dengan Abul Qosim dan penjelasan mengenai nama-nama yang disunnahkan.” Hal ini menunjukkan bahwa nama para Nabi dan Rasul adalah di antara nama terbaik yang bisa digunakan.

An Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan, “Dari hadits ini sekelompok ulama berdalil bahwa bolehnya memberi nama dengan nama para Nabi ‘alaihimus salaam, bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) ulama. Kecuali Umar bin Khottob yang berpendapat agak sedikit berbeda dalam hal ini.”[13]

Urutan keempat: Nama orang sholeh

Dalil hal ini sudah disebutkan sebelumnya dalam hadits Al Mughirah bin Syu’bah. Yang paling baik digunakan adalah nama para sahabat karena merekalah generasi terbaik dari umat ini. Seutama-utama dari mereka adalah para Khulafaur Rosyidin, yaitu Abdullah (Abu Bakr), ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Untuk anak perempuan bisa menggunakan nama istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummahatul Mukminin). Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada 11[14] :

1. Khadijah binti Khuwailid;
2. Saudah binti Zum’ah;
3. Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;
4. Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;
5. Zainab binti Khuzaimah;
6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;
7. Zainab binti Jahsy bin Rayyab;
8. Juwairiyyah binti Al Harits;
9. Ummu Habibah Romlah binti Abu Sufyan;
10. Shofiyah binti Huyai bin Akhthab;
11. Maimunah binti Al Harits.[15]

Sebagai contoh yang menggunakan nama sahabat adalah anak-anak Az Zubair bin Al ‘Awam. Beliau menamakan sembilan anaknya dengan nama para sahabat yang mengikuti perang Badar. Anak-anaknya tersebut diberi nama:

1. ‘Abdullah
2. Al Mundzir
3. ‘Urwah
4. Hamzah
5. Ja’far
6. Mush’ab
7. ‘Ubaidah
8. Kholid
9. ‘Umar[16]

Urutan kelima: Nama lainnya yang memenuhi syarat dan adab

Syarat dalam pemberian nama sebagai berikut:

Syarat Pertama: Menggunakan bahasa Arab.

Dari sini, menunjukkan terlarangnya menggunakan nama-nama bukan Arab seperti Joseph, Robert, Markus, Julia dan Diana.

Syarat Kedua: Memiliki susunan dan makna yang bagus.

Sehingga dari sini tidak boleh menggunakan nama makruh dan terlarang. Begitu juga terlarang menggunakan nama yang mengandung celaan dan mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya). Oleh karena itu, nama semacam ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai merubahnya.

Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Tidak sepantasnya seseorang memakai nama dengan nama yang jelek maknanya atau menggunakan nama yang mengandung tazkiyah (menetapkan kesucian dirinya), dan tidak boleh pula dengan nama yang mengandung celaan. Seharusnya nama yang tepat adalah nama yang menunjukkan tanda bagi seseorang saja dan bukan dimaksudkan sebagai hakikat sifat. Akan tetapi, dihukumi makruh jika seseorang bernama dengan nama yang langsung menunjukkan sifat dari orang yang diberi nama. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengganti beberapa nama ke nama yang benar-benar menunjukkan sifat orang tersebut. Beliau melakukan semacam itu bukan maksud melarangnya, akan tetapi untuk maksud ikhtiyar (menunjukkan pilihan yang lebih baik).”[17]

Adab dalam pemberian nama yang sebisa mungkin dilakukan:

Menggunakan nama sesuai urutan terbaik yang telah kami jelaskan di awal.
Menggunakan nama yang terdiri dari huruf yang jumlahnya sedikit.
Menggunakan nama yang mudah diucapkan di lisan.
Memudahkan orang yang mendengar untuk mengingatnya.
Menggunakan nama yang cocok dengan orang yang diberi nama dan tidak keluar dari kebiasaan yang dipakai dalam agamanya atau masyarakat sekitarnya.[18]

Dari penjelasan adab tambahan ini menunjukkan bahwa nama yang kurang bagus adalah nama yang terdiri dari banyak kata seperti: Andika Syarifudin Guntur Prasetyo, Linggar Simping Pembayun Retno Utami. Nama ini kurang disukai karena orang-orang akan beranggapan bahwa satu nama ini terdiri dari beberapa orang. Inilah sisi kurang bagusnya untuk nama-nama semisal itu.

Insya Allah, untuk pembahasan ini kami masih lanjutkan dalam tulisan selanjutnya yaitu mengenai nama yang haram dan makruh untuk digunakan. Semoga Allah mudahkan.

Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi siapa saja yang menanti buah hatinya. Semoga Allah beri keberkahan.

Diselesaikan di waktu ‘Ashar, 11 Jumadil Awwal 1431 H (25/04/2010), Panggang-GK.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.rumaysho.com

***

[1] Marootibul Ijma’, hal. 154.
[2] Hadits ini dibawakan oleh An Nawawi dalam Bab “Dorongan untuk sedekah meskipun dengan setengah biji kurma atau kalimat yang baik”, juga pada Bab “Barangsiapa membuat contoh yang baik atau yang jelek, atau mengajak pada yang petunjuk atau kesesatan.”
[3] Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/588, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379
[4] Fathul Baari, 9/589.
[5] Tasmiyatul Mawlud, Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, hal. 28, Darul ‘Ashimah, cetakan ketiga, tahun 1416 H
[6] Lihat Tuhfatul Mawdud, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Bab VIII, pasal pertama, Maktabah Darul Bayan, 1391 H
[7] Tuhfatul Mawdud, hal. 135.
[8] Kami urutkan berdasarkan penyebutan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya “Tasmiyatul Mawlud”.
[9] Faedah dari Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘alal Adzkar An Nawawiyah, Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i, 6/72, Darul Kutub Al ‘Imiyyah, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[10] Faedah dari Tasyimatul Mawlud, hal. 32-33.
[11] Lihat Tasyimatul Mawlud, hal. 33-34.
[12] Lihat Tasyimatul Mawlud, hal. 36.
[13] Syarh Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 14/117, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.
[14] Sebagaimana hal ini disebutkan dalam kitab Shiroh Nabi, Ar Rohiqul Makhtum.
[15] Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda.
[16] Lihat Tasmiyatul Mawlud, hal. 38.
[17] Dinukil dari Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 10/577, Darul Ma’rifah, 1379.
[18] Lihat syarat dan adab pemberian nama dalam Tasmiyatul Mawlud, hal. 39-43.

Tugas Ke 2 Pemrograman Visual

Tugas Pemrograman Visual Pertemuan 2  :
1. Buat validasi input data tidak boleh kosong
2. Lanjutkan kode aritmatika untuk kali, bagi, kurang dan tutup form
3. Pada hasil operasi, hanya bisa dibaca (tidak bisa diinput)
4. Pada praktik1 dan praktik2 hanya
bisa diisi angka ,koma dan backslash

Tugas di presentasikan pada pertemuan 3.

Source code dapat di download disini.

Sekilas tentang RSS

RSS (Really Simple Syndication). RSS merupakan salah satu contoh atau lebih tepatnya format data web feed.

Artinya, saat kita melakukan subscribe (berlangganan) web feed blog tersebut, maka seluruh posting yang terdapat pada blog tersebut dapat kita nikmati melalui Google, Bloglines, Netvibes, dan lainnya. Jadi, sama saja dengan memindahkan konten blog ke dalam sebuah aplikasi kita sendiri (disebut dengan aggregator atau feed reader), dan kita dapat terus mengikuti berita terbaru tanpa perlu mengunjungi blog tersebut.

Keuntungan yang akan kita peroleh dari melalukan web feed, antara lain:

  1. Dapat membaca konten dari satu atau lebih website tanpa harus mengunjunginya, termasuk menulusuri konten yang lama, walaupun hal ini tergantung website atau blog yang bersangkutan untuk memberikan batas konten.
  2. Kita dapat mengakses web feed, membaca kapan dan dimana saja, selama kita terhubung dengan internet.
  3. Tidak perlu mendaftarkan alamat e-mail untuk melakukan subscribe, sehingga aman dari spam dan “hadiah” lainnya melalui e-mail, seperti virus, hoax, phising, dan lainnya.

Walaupun demikian, tidak semua website cocok menerapkan web feed, beberapa website yang kurang cocok menerapkan web feed adalah:

  1. Website yang waktu update-nya relatif cepat dan informasi lama sering tidak dipakai lagi. Misalnya, website yang menampilkan informasi mata uang atau harga saham.
  2. Web portal atau web directory.
  3. Web forum.

Web feed tidak selalu memberikan konten penuh, umumnya blog memiliki opsi yang membebaskan pemilik blog untuk memberikan konten penuh atau hanya sebagian kepada feed reader.

Teknologi apa yang yang ada dibalik web feed? Web feed merupakan contoh dari pull technology atau client pull, artinya request (permintaan) berasal dari client (kita), dan akan direspon oleh server.

Secara lebih teknis, web feed merupakan dokumen XML yang memiliki format khusus. Dua format web feed yang umum saat ini adalah format RSS dan Atom.

Apakah meraba dan mencium istri bisa membatalkan wudhu ?

Dari Aisyah Radhiallaahu anha bahwasanya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mencium salah seorang isteri beliau, kemudian keluar untuk melaksanakan shalat dan beliau tidak ber-wudlu’ lagi.
Hadits ini menjelaskan hukum tentang menyentuh wanita dan men-ciumnya (bagi suami-penj.); apakah membatalkan wudlu’ atau tidak? Para ulama Rahimahullaah berbeda pendapat mengenainya:

  • Ada pendapat yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudlu’ dalam kondisi apapun.
  • Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa menyentuh wanita dengan syahwat, membatalkan wudlu’ dan jika tidak, maka tidak membatalkan.
  • Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa hal itu tidak membatalkan wudlu’ secara mutlak (sama sekali), dan inilah pendapat yang rajih (kuat).

Yang dimaksud, bahwa seorang suami bila mencium istrinya, menyentuh tangannya atau menggenggamnya sementara tidak menyebabkannya keluar mani dan dia belum berhadats maka wudlu’nya tidak rusak (batal) baik baginya ataupun bagi istrinya. Hal ini dikarenakan hukum asalnya adalah wudlu’ tetap berlaku seperti sedia kala hingga didapati dalil yang menyatakan bahwa wudlu’ tersebut sudah batal. Padahal tidak terdapat dalil, baik di dalam kitabullah maupun sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang menyatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudlu’.
Maka berdasarkan hal ini, menyentuh wanita meskipun tanpa pelapis, dengan nafsu syahwat, menciumnya dan menggenggamnya; semua ini tidak membatalkan wudlu’. Wallahu a’lam.
( Kumpulan Fatwa-Fatwa Seputar Wanita dari Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 20. )

download terjemahan Fatawal Mar’ah  hal 20  Syaikh Ibnu Utsaimin

Menikmati liburan akhir pekan di Pantai Depok

Akhir pekan kemarin melepas kepenatan kerja dengan  refresing bersama istri tercinta di objek wisata Panta Depok.

Pantai Depok, pantai yang lokasinya tidak jauh dari pantai Parang Tritis ini mulai banyak digemari wisatawan. Lokasinya yang berada di sebelah barat pantai Parang Tritis, bisa dijangkau dengan kendaraan sepeda motor maupun bus pariwisata.

Pantai Depok menawarkan bentuk lain dari obyek wisata pantai. Ya.. Pantai Depok menawarkan sajian kuliner laut yang cukup beragam karena pantai depok merupakan pusat tempat pelelangan ikan (TPI). Anda bisa berbelanja berbagai macam jenis hasil laut seperti   ikan kakap, ikan baracuda, ikan  laura ,  kepiting, cumi-cumi, kerang, lobster laut, dan masih banyak lagi.

Menu makanan ikan bakar

Selain menikmati keindahan pantainya, kita juga dapat membeli ikan-ikan langsung dari nelayannya, tentunya harganya jauh lebih murah dari pasar.

Selain wisata kuliner, anda juga bisa mencoba permainan ATV untuk keliling pantai.

ATV di pantai Depok

ATV ini disewakan per 15 menit, untuk yang kecil Rp.25.000,- dan yang besar Rp.50.000,- . Harga sewa ini ditanya pada tanggal 15 Mei 2011.

Ada satu lagi. Pengen melihat pantai dari udara ? di Depok juga ada Air Show. Anda bisa menikmati keindahan pantai dengan Air Show yang didamping oleh pemandu.

Air Show di Pantai Depok

Dengan airshow ini anda akan diajak terbang rendah mengelilingi pantai Depok.  Syarat utamanya adalah tidak takut dengan ketinggian😀

Berminat mengunjungi ? silahkan datang ke Depok Beach🙂

Kiat Sukses Buka Toko Sendiri

Membuka toko memang menjanjikan banyak keuntungan. Jangan heran jika Anda sering melihat orang yang membuka toko punya mobil lebih dari satu dan rumah yang bagus.

Bagi sejumlah orang, keinginan untuk memulai usaha toko menjadi impian dan keinginan menggebu-gebu. Namun, tak sedikit pula yang ragu memulainya karena banyak hal-hal yang ditakuti.

Apabila Anda telah mempersiapkan diri, tentunya ketakutan itu akan dapat diminimalisir. Berikut adalah trik yang dapat Anda terapkan sebelum membuka toko:

  1. Mulailah dengan jenis usaha berdasarkan keahlian atau hobi keluarga Anda. Dengan demikian Anda cukup menguasainya dan bersemangat untuk mengembangkannya.
  2. Carilah lokasi usaha yang paling potensial. Anda bisa sesuaikan dengan segmentasi dan jenis usaha Anda.
  3. Perhatikan tempat dan buat semenarik mungkin. Jika perlu renovasi, tekan biayanya. Soal modal, sesuai dengan prinsip orang Tionghoa, jangan ragu memulai dari ‘nol’.
  4. Membuka toko berarti harus cerdik menentukan barang yang paling cepat laku dari jenis usaha Anda, karena nanti modal akan banyak tersedot untuk pengadaan barang yang paling cepat laku tersebut.
  5. Jika dana terbatas untuk modal pengadaan barang, bisa juga meminjam barang saudara atau rekanan yang mau dititipkan.
  6. Saat pembukaan toko, jangan lupa mengundang sanak saudara atau relasi.
  7. Hati-hati dalam mencari relasi bisnis. Carilah relasi yang dapat dipercaya. Jangan mudah percaya pada orang.
  8. Perhatikan kualitas barang-barang yang diperoleh dari relasi, jangan langsung senang memperoleh barang murah dan selalu ingat bernegosiasilah dengan pemasok soal harga. Akan lebih baik Anda membangun jejaring dengan toko-toko lain, sehingga mengetahui informasi-informasi penting bagi usaha Anda atau memiliki cukup pasokan barang dengan gudang bersama.
  9. Sejak awal, pemilik harusnya mulai berkomitmen untuk memperhatikan penuh usahanya ini. Pemilik harus disiplin berada di tokonya setiap hari.
  10. Dalam bergaul dengan karyawan dan pembeli jangan menempatkan diri sebagai bos. Dengan berada di toko, pemilik berarti mengusahakan secara eksternal membangun kepercayaan pembeli dan secara internal mengontrol langsung karyawannya.

Sementara itu, mengutip informasi dari buku Rahasia Sukses Toko Tionghoa karya Istijanto Oei, keuntungan membuka toko ternyata memang bermacam-macam. Berikut rahasia keuntungannya:

Pertama, nilai uang.

Jika Anda memiliki uang, misalnya sebesar Rp 5 juta tanpa menginvestasikannya, maka nilai uang tersebut tak akan berkembang. Sebaliknya, jika Anda menginvestasikan uang tersebut untuk membeli barang seperti sampo, sabun, minuman, atau makanan, kemudian menjualnya di toko, nilai uang tentu akan bertambah.

Misalnya saja, jika Anda mengambil untung 20 persen dari nilai barang yang tadi. Maka, nilai barang dapat bertambah menjadi Rp 6 juta. Apalagi jika barang tersebut habis dalam waktu sebulan saja. Berarti setiap bulan Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 juta.

Kedua, inflasi.

Membuka toko juga dapat membebaskan Anda dari dampak buruk inflasi atau kenaikan harga barang. Sebab, begitu harga barang naik, harga barang Anda pun akan ikut naik.

Selama tidak busuk atau rusak, nilai barang memang akan ikut naik saat terjadi inflasi. Contoh paling mudah adalah toko emas. Jika suatu toko emas memiliki emas 5 kg dan harga satu gram emas saat itu sekitar Rp 117.000. Walaupun toko emas tersebut tidak laku selama dua tahun pun, keuntungan yang diraih bisa beberapa kali lipat. Sebab, nilai emas dapat naik tak terduga hampir setiap tahun.

Ketiga, kredit.

Keuntungan lainnya membuka toko adalah dapat memakai barang terlebih dulu. Contohnya, jika memesan barang dari pemasok, Anda dapat memanfaatkan fasilitas kredit. Nah, jika Anda dapat menjual barang dengan cepat, maka hasil keuntungan dari penjualan tersebut dapat digunakan untuk membayar kredit. Selain itu, Anda pun dapat menginvestasikan kelebihan untungnya untuk membeli stok barang yang lain.

Keempat, pebisnis.

Membuka toko juga dapat membuka peluang menjadi pebisnis papan atas. Jika toko sukses, Anda tak hanya menjual barang ke toko-toko. Namun, Anda juga dapat menjual konsep toko, desain, berikut memasok barang-barangnya. Melihat fakta-fakta di atas, apakah Anda masih ragu untuk membuka toko sendiri?

Source : http://www.suaramedia.com

Geblek Kabupaten Purworejo Go Internasional

PURWOREJO, Kabupaten Purworejo sebenarnya memiliki banyak usaha menengah/kecil menengah (UMKM), khususnya industri rumah tangga. Mereka  bergerak di berbagai bidang jenis usaha, salah satunya pembuatan makanan olahan. Produk tesebut dapat diangkat sebagai ikon Kabupaten Purworejo, bahkan pemasarannya mampu menembus ke luar negeri seperti negeri jiran, Malaysia , Timur Tengah hingga Jepang.

Dari berbagai macam makanan olahan, salah satunya makanan geblek. Jenis makanan yang berbahan baku ketela pohon tersebut, produksinya tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Purworejo. Keberadaan usaha tersebut sudah ada sejak lama, mungkin sudah ada sejak lebih setengah abad yang lalu. Umumnya diusahakan secara turun-temurun. Sehingga makanan ini dapat kita jumpai diberbagai penjuru kota Purworejo. Bahkan dengan usaha tersebut, para pelaku usaha dapat menghidupi keluarganya.

Bakim (43), warga kampung Plaosan RT/RW 01/14., Kelurahan Purworejo Kecamatan Purworejo, merupakan salah satu dari bayak pembuat geblek yang beruntung. Usaha tersebut mewarisi orang tuanya, Sarmad (75), sebagai pembuat makanan camilan berbaham baku ketela pohon. Bahkan dengan usaha tersebut, Sarmad mampu membeli dan membangun rumah, dan menghidupi ketiga anaknya. Salah satu anaknya keduanya, Bakim, kini meneruskan usahnya ayahnya.

Dikisahkan oleh Bakim, usaha tersebut dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyangnya. Asal muasal keluarganya, katanya, berasal dari sebuah desa di wilayah Kecamatan Bener. Waktu itu, entah tahun berapa dia sendiri tidak tahu, nenek moyangnya sebagai pembuat geblek. Penjualannya selain di pasar-pasar sekitar Bener, juga sampai wilayah Borobudur, Magelang.*

Sumber : http://purworejonews