Langkah Maju Menuju Peradaban yang Tinggi dengan Budaya membaca

Bismillah…
baca-1000-bukuTidak dapat disangkal lagi bahwa Ilmu pengetahuan merupakan simbol dari terbentuknya suatu peradaban yang tinggi dan maju, karena dengan ilmu pengetahuan tersebut akan tercipta suatu penemuan-penemuan terkini yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh semua umat manusia. Ilmu pengetahuan mempunyai peranan tertinggi dalam mengubah suatu peradaban pada suatu kaum atau umat.

Terlepas dari itu semua, sudah tentu ilmu pengetahuan tersebut diperoleh atau didapat dari kegiatan membaca kemudian di catat atau ditulis. Dengan membaca maka ilmu pengetahuan akan muncul dan berkembang. Tanpa membaca mustahil akan tercipta suatu peradaban yang maju dan ber-keilmuan. Dalam suatu tatanan Negara, apabila mempunyai suatu peradaban yang tinggi maka dialah yang akan menang. Seorang tokoh Yahudi berkata, “Kami tak akan pernah takut kepada umat Islam, karena mereka tidak memiliki budaya membaca.“. Sangat jelas sekali kutipan dari seorang tokoh Yahudi tersebut, bahwa suatu bangsa atau kaum apabila mempunyai suatu peradaban yang tinggi maka akan diperhitungkan atau boleh dikatakan akan takut, dan peradaban yang tinggi tersebut tentunya diperoleh dari membaca.

Mari kita tengok kembali ayat yang pertama kali diturunkan oleh Alloh SWT kepada Rosul SAW, akan kita dapati bahwa ayat yang turun tersebut adalah perintah untuk membaca !!!! Iqra’ (bacalah), ayat ini tidak hanya disebutkan satu kali. Dalam satu waktu dan satu kali penurunan ayat pertama, perintah “bacalah!” diulang dua kali, dan itupun terdapat dalam satu surat, yaitu surat al-’Alaq ayat pertama dan ketiga.

Perintah yang tegas itu mampu mengubah budaya Arab Jahiliah yang sebelumnya terbelakang menjadi bangsa yang jaya, mengalahkan bangsa-bangsa lain yang telah memiliki peradaban gemilang terlebih dahulu. Sebelumnya, bangsa Arab bukanlah apa-apa; tak ada sesuatu yang dapat dibanggakan dari mereka, kecuali mungkin keahlian untuk menggubah puisi. Mereka tidak sebagaimana bangsa India yang telah memiliki tradisi membukukan dan mengoleksi kitab-kitab turâts mereka, tidak sebagaimana Yunani dengan filsafat dan mantiknya, tidak juga sebagaimana bangsa Persia dengan budaya ceramah dan orasi lisannya. (Ahmad Amin dalam Fajrul-Islâm).

Ironisnya, anjuran tersebut tidak pernah dipahami dengan benar bahkan tidak digubris oleh Umat Islam Sendiri dan tampaknya kini telah diterapkan oleh pemeluk agama-agama di luar Islam. Sebagaimana penganut Yahudi, yang menurut prosentase dalam suatu penelitian, tingkat membacanya mendapatkan poin terbanyak daripada agama lainnya. Jika diurut, dalam hal ini Eropalah yang saat ini berkembang pesat. Kemudian ada agama Shinto, agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Jepang dan disusul oleh Budha, yang kebanyakan dianut oleh penduduk China. betapa luar biasanya mereka membawa penduduknya menuju peradaban gemilang, dan dikagumi oleh bangsa-bangsa yang lain. Selain itu mereka juga menjadi bangsa yang berkembang pesat, terutama pada negera Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya.

Sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa berkembang dan maju sepesat itu ???? Sudah sangat jelas sekali karena mereka adalah manusia-manusia pembaca !!! Mereka mempunyai waktu khusus untuk membaca buku yang mereka anggap serius atau penting di sela kesibukan mereka dalam pekerjaan. Mereka tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk membaca guna menambah wacana keilmuan mereka. Kita bisa melihat kebiasaan orang Jepang yang sangat jarang meninggalkan sebuah bacaan, sampai-sampai saat dalam perjalanan di dalam sebuah bus atau kereta, mereka akan terlihat, satu dengan yang lainnya, sama-sama membisu lantaran mereka sedang asyik membaca sebuah buku ataupun majalah tanpa berbincang-bincang.

Lalu bagaimana dengan Negeri Indonesia ini ??? apabila kita melihat realita yang ada, bahwa budaya membaca di negara ini jauh dari harapan. Jarang sekali kita temui orang yang membaca buku kecuali di toko-toko buku ataupun perpustakan, dan juga ada yang gemar membaca buku akan tetapi tidak membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban bahkan akan berdampak negatif. Sebagai contoh para remaja lebih suka membaca buku yang berbau pornografi atau lebih banyak membaca buku yang bernuansa hiburan semata yang mana tidak akan membawa dampak yang baik bagi majunya suatu peradaban. Mereka hanya menyia-nyiakan waktu saja dan tidak peduli dengan tujuan utama membaca, yakni sebagai wahana penambah wawasan dan pengetahuan.

Ada juga yang gemar atau hobi membaca, namun tidak mengerti apa yang telah dibacanya. Ada pula yang berjam-jam menghabiskan waktu dengan membaca, namun tidak memiliki tujuan dari apa yang dibacanya. Semua ini hanya akan menyia-nyiakan umur saja. Maka, langkah yang tepat agar apa yang dibacanya menjadi sebuah pengetahuan adalah dengan menyusun target dan manfaat yang akan dibacanya dan berusaha semaksimal mungkin membaca bacaannya dengan singkat namun dapat diserap. Demi tercapainya budaya membaca pada masyarakat sebagai langkah awal menuju peradaban yang bermartabat, tak heran bila saat ini bermunculan buku-buku bacaan yang menuntut kebiasaan membaca agar dimulai sejak dini. Bahkan, ada pula yang menyatakan bahwa membaca itu tidak harus dengan membaca sebuah tulisan. Menurutnya, membaca memiliki arti yang luas.

Kemajuan suatu bangsa tidak timbul dengan sendiri, melainkan dengan usaha yang tekun dan sungguh-sungguh untuk meraih kemajuan itu. Maka dari itu mari kita menyusun langkah untuk menuju budaya membaca yang serius, sangatlah ironis bila kita masih menganggap budaya membaca hanya sekedar hobi, atau untuk mengisi waktu yang kosong atau mengategorikan membaca hanya sebagai kegiatan orang-orang tertentu (kelompok intelektual). Mari kita menyongsong kegemilangan peradaban Islam masa depan dengan membaca.

Hanya dengan membaca yang serius akan tercipta suatu Ilmu pengetahuan, sehingga dengan ilmu pengetahuan tersebut akan tercipta suatu perdaban yang tinggi dan maju dan akan disegani bahkan di takuti oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu membaca akan mengangkat harkat, martabat dan derajat suatu kaum karena keilmuannya.

dikutip dari : http://rachmadsaleh.blogdetik.com

%d blogger menyukai ini: