Menikahlah Engkau Wahai Rabi’ah!

“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Sebab, jika kalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.” (HR Tirmidzi)

Menikah adalah dambaan setiap orang. Terlebih bagi mereka yang tengah dimabuk cinta. Sehingga Rosulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam pun bersabda, “Tidak ada obat yang paling mujarab bagi orang yang tengah dimabuk asmara selain menikah” (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, tidak semua orang sanggup melangsungkan momen yang amat didambakan tersebut. Banyak faktor yang menghalanginya. Ada yang terbentur masalah biaya, belum adanya calon, hambatan dari orangtua, dsb. Padahal gejolak dalam diri sudah sangat kuat.

Bila demikian bagaimana jalan keluarnya?

Nabi Rosulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam memberi tuntunan, “Menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku. Barangsiapa memiliki kemampuan untuk nikah, maka menikahlah. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa memiliki kemampuan meredam (nafsu)” (HR Ibnu Majah).

Yang jadi masalah, andai puasa tetap tidak mampu meredam gejolak, maka tetap menikah menjadi satu-satunya obat yang harus diberikan. Sebab, menurut Ibnul Qayyim dalam bukunya Metode Pengobatan Nabi, puasa hanyalah pengobatan sementara (pengganti) bagi penyakit asmara. Pengobatan sebenarnya (yang asli dan permanen) adalah menikah.

Bila seperti ini kejadiannya, sudah menjadi kewajiban orangtua, masyarakat, bahkan negara untuk mempermudah proses pernikahan sang jejaka dengan gadis pujaannya (atau yang dipilihkan orangtua). Andai dibiarkan berlarut-larut, apalagi karena alasan yang tidak syar’i (misalnya karena masalah harta), maka akan terjadi fitnah dan bencana besar.

Rosulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam pernah mengecam orangtua yang mempersulit anaknya untuk menikah. “Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Sebab, jika kalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi” (HR Tirmidzi).

Karena itu, ada satu prinsip yang selalu ditekankan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam, yaitu, “permudah dan jangan dipersulit”. Andai kita teliti Shirah Nabawiyyah dan kisah para sahabat, kita akan mendapati sikap mereka yang tidak “mempersulit diri” menjalankan sesuatu yang Allah perintahkan. Ada kisah menarik yang menggambarkan betapa “mudahnya” Islam dan betapa tanggungjawabnya Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam kepada umat yang dipimpinnya, termasuk dalam hal pernikahan. Berikut petikannya.

Kisah Rabi’ah Al Aslami
Rabi’ah adalah salah seorang sahabat yang pernah menjadi pembantu Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam Rasul sangat baik dan perhatian kepadanya. Sampai suatu ketika beliau bertanya kepada Rabi’ah, “Wahai Rabi’ah, maukah engkau menikah?” Rabi’ah menjawab, “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah. Aku belum mau menikah karena aku tidak memiliki harta yang bisa menghidupi istriku nanti.”

Mendengar jawaban itu, Rasul berpaling lalu bertanya kembali, “Maukah engkau menikah?” Rabi’ah pun menjawab dengan jawaban sama, hingga Rasul berpaling darinya. Setelah itu, muncul rasa tidak enak dalam hati Rabi’ah. “Demi Allah, Rasulullah tentu lebih tahu tentang apa yang bermanfaat bagiku di dunia dan akhirat. Bila beliau bertanya lagi tentang hal itu, aku pasti akan meng-iya-kan. aku persilahkan beliau menyuruhku sekehendaknya,” gumamnya.

Rasul pun kembali menemui Rabi’ah dan bertanya, “Rabi’ah, maukah engkau menikah?” Rabi’ah menjawab, “Benar, wahai Rasulullah, perintahlah aku sekehendakmu.” Beliau pun memerintahkan Rabi’ah pergi ke rumah keluarga fulan dari kaum Anshar untuk menyampaikan lamaran Rasulullah atas nama Rabia’h.

Ia pun bergegas mengunjungi keluarga fulan. Kepada mereka Rabi’ah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah mengutusku kepada kalian agar menikahkan aku dengan fulanah, putri kalian”. Apa reaksi keluarga tersebut ? Mereka menyambut gembira, “Selamat datang wahai Rasulullah dan utusannya. Demi Allah, utusannya hanya akan pulang jika keperluannya telah terpenuhi semua”. Tanpa banyak aturan, mereka segera menikahkan Rabi’ah dengan putrinya. Mereka pun melayani Rabi’ah dengan sangat baik.

Setelah itu, Rabi’ah kembali ke rumah Rasulullah dengan perasaan sedih. Sesampainya di sana, ia berujar, “Wahai Rasulullah, aku baru datang dari keluarga yang sangat murah hati. Mereka menikahkanku, melayaniku dengan ramah dan tidak memintaku sebuah bukti pun bahwa aku utusanmu. Padahal aku tidak memiliki sesuatu pun untuk dijadikan mahar”.

Mendengar keluhan Rabi’ah, Rasulullah segera memanggil Buraidah dan memintanya untuk mengumpulkan emas seberat biji kurma untuk menjadi maharnya. Buraidah serta beberapa sahabat lain melaksanakan permintaan Rasulullah. Hingga terkumpulah emas seberat biji kurma yang Rasul serahkan kepada Rabi’ah. “Berikanlah emas ini kepada mereka sebagai mahar”.

Rabi’ah segera pergi ke rumah mertuanya untuk memberikan mahar tersebut. Mereka pun menerimanya dengan perasaan ridha, bahkan berkata, “Ini mahar yang sangat bagus dan banyak.”

Anehnya, Rabi’ah malah kembali ke rumah Rasulullah dengan perasaan sedih. Melihat hal itu, berbeliau bertanya lagi, “Rabi’ah, mengapa engkau bersedih lagi?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak pernah kujumpai orang yang semurah hati mereka. Dengan ridha mereka menerima maharku, bahkan mengatakannya sudah sangat banyak dan bagus. Sekarang, aku tidak punya sesuatu pun untuk acara walimah nanti.”

Rasul yang mulia tersenyum dan berkata kepada Buraidah, “Wahai Buraidah, kumpulkanlah uang untuk membeli seekor kambing.”

Tak lama kemudian mereka pun mendapatkan seekor kambing yang besar dan gemuk. “Pergilah engkau kepada ‘Aisyah dan minta ia menyerahkan tempat simpanan yang berisi makanan!,” ungkap Nabi Shollallohu ‘alaihi Wasalam. Rabi’ah segera melaksanakan titah Rasulullah. Ia pergi ke rumah ‘Aisyah dan mengatakan apa yang beliau minta.

“Takaran ini berisi tujuh sha’ gandum. Demi Allah, tidak. Demi Allah, tidak. Bila kami mempunyai makanan lain, maka ambillah,” kata ‘Aisyah. Rabi’ah segera membawa gandum tersebut kepada Rasulullah dan mengatakan apa yang dikatakan ‘Aisyah. Rasul pun segera memerintahkan Rabi’ah untuk membawa kambing dan gandum ke rumah mertuanya. Sesampainya di sana, mereka berkata, “Biarlah kami yang membuatkan rotinya. Sedangkan kambing engkau saja yang memasaknya.” Bersama beberapa orang dari Bani Aslam, Rabi’ah menyembelih dan memasak kambing tersebut.

Setelah semua siap, Rabi’ah mengundang Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasalam untuk menghadiri acara walimahan pernikahannya dengan Fulanah dari kaum Anshar. Akhirnya, semua berbahagia!

dikutip dari : http://yahumairah.blogspot.com

diedit oleh : wahyu w

4 responses to this post.

  1. Dengan mengharap ridho Alloh..
    Bersedia… siap… Ya!

    Balas

  2. Posted by hendar on 12 Juli 2010 at 5:58 am

    Do’akan saya juga ya akh…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: